Entri Populer

Kamis, 04 Oktober 2012

Belakangan

Belakangan ini saya lebih sering memikirkan hal-hal yang sifatnya filosofis *tsaaah :)
seperti model pertanyaan berikut :
1. Saya hidup untuk apa
2. Saya akan menjadi apa di hidup ini
3. Saya akan memberikan apa
4. Apa yang sudah dan belum saya lakukan
dan renungan-renungan lain yang hampir saya lakukan di banyak tempat
bisa di kereta ketika pulang kantor, diatas ojek ketika berangkat kerja, di peron stasiun ketika nunggu supir kereta datang dan ditempat lain.

atas bermacam pertanyaan diatas,
saya mendapati perasaan saya berubah-ubah
berganti-ganti antara bahagia, kecewa, sedih, lalu bersyukur lagi
untuk bahagia, jelas karena saya tidak menemukan alasan untuk tidak bahagia
karena apabila syarat untuk bahagia (sebut saja) adalah materil dan non materil
maka apa yang tidak Allah berikan kepada saya untuk 2 aspek itu?
Hm, tidak ada. Saya berpikir nyaris semua Allah kasih. Semua
Keluarga? Teman? Sahabat? Pekerjaan? Pendapatan? Pengetahuan?
Saya terima gratis dari Allah.


Kurang bahagia apa kalau setiap pagi menjelang kantor, selalu dimulai dengan percakapan menyenangkan dengan keluarga? Sarapan sambil penuh tawa? Sempurna.
Kurang bahagia apa punya teman yg asik dan menularkan keasikan. Tidak sering bertemu didunia nyata, tapi didunia maya jenis teman-teman ini menularkan kegirangan sepanjang hari.
Kurang bahagia apa punya sahabat yg perhatiaan, support untuk hal positif, mengingatkan dan mentransfer kehangatan sikap kapanpun.
Kurang bahagia apa apabila jenis pekerjaan yang kamu lakukakan tidak ubahnya seperti sedang melakukan proses belajar
Kurang bahagia apa apabila pendapatan mu cukup
dan kurang bahagia kalau akses terhadap pengetahuan tidak berjarak

Ada masa juga
Saya berpikir semua hal yang kurang
membandingkan dengan milik orang lain
Seperti pencapaian, pendidikan, berkeluarga dan lain-lain.
Manusiawi yah? :)
defaultnya manusia kurang terus, kepinginan dengan yang dia tidak punya.
dilain tempat orang lain kepingin dengan apa yang kita punya.
Period

Tapi belakangan,
pertanyaan saya kebalik menjadi : 'mengapa saya seberuntung ini?'
Tentu orang lain memiliki definisinya sendiri dan boleh jadi melihat, apa yang saya dapatkan jauh dari yang disebut beruntung. Semacam 'ah biasa aja'
Tapi apapun, saya merasa beruntung dan pertanyaan itu berulang
Setelah melakukan kontemplasi panjang *rrrrr
saya akhinya bisa membuat jawaban sederhana atas pertanyaan sederhana tadi
begini teman,
hmm bisa jadi,
semua orang sama beruntungnya
perihal saya diberiikan 100, tapi ada orang yang diberikan 10 atau 300
mungkin Allah titip menyalurkan saja
kebetulan saja lewat orang semacam saya
Ilustrasinya 'titip ya, ini ada milik orang lain' 'lewat kamu ya membaginya'
jadi sebenarnya semua keberuntungan itu tidak benar-benar dimaksudkan hanya untuk saya untuk kemudian diambil semua.

Semua jenis bahagia itu, hanya sekedar lewat dititipkan.
Saya mungkin intermediary.
Ya, intermediary
Tugasnya? Jelas menyalurkan kepada yang seharusnya juga mendapatkan :)

1 komentar:

  1. intermediary..?
    lebih tepatnya saluran berkat Yang Maha Kuasa u/ sesama manusia..

    setiap manusia dilahirkan u/ berperan begitu, tinggal pribadi masin2nya aware atau tidak.

    BalasHapus