Kelas ekonomi kemiskinan.
Sepanjang 1 semester mata kuliah ini mengajarkan dari mulai definisi kemiskinan, ukuran kemiskinan, teori-teori penyebab kemiskinan, dampak, perilaku sampai bagaimana mengatasinya. Ditutup dengan turun ke lapangan mewawancara dan mempresentasikan temuan tentang kemiskinan.
Yang menarik dan debatable adalah pandangan bahwa perilaku kita memberikan uang kepada mereka yang meminta-minta sebenarnya kontraproduktif, dengan alasan sebagai berikut :
1. Tidak menyelesaikan masalah kemiskinan mereka. Karena yang diobati hanya gejalanya saja, bukan penyebab.
2. Membentuk mereka menjadi short term minded.
3. Menjadi insentif bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama.
4. Menjadi opportunity cost untuk anak-anak usia sekolah sehingga mereka memilih tidak sekolah walaupun digratiskan sekalipun (dan kenyataannya ga ada sekolah yang benar-benar bebas biaya kecuali program pendidikannya DD).
5. Menjadi alasan orang tua mereka untuk melarang anaknya pergi ke sekolah.
6. Menjadi daya tarik orang desa ke kota. Teorinya: apabila ekspektasi mereka terhadap pendapatan di kota akan lebih besar dibandingkan cost mereka untuk pindah, mereka akan memutuskan untuk pindah. Nah, bagaimana jika “pendapatan” ini sampai ke banyak telinga?
8. Dan paling parah adalah merusak mental untuk berusaha
Kesimpulan kelas ekonomi kemiskinan: seharusnya tidak ada satupun orang yang memberikan rupiah kepada mereka, karena “niat baik” kita tidak berdampak baik secara teori. Dan sepanjang masih ada yang memberikan mereka uang tunai, mereka tidak akan hilang walaupun dilarang. supply demand. Begitu semua orang berhenti, selesai perkara. Mereka switch melakukan hal lain.
Pandangan untuk tidak memberikan uang ini juga diikuti dengan teori bahwa mereka yang melakukan ini sebenarnya adalah sekelompok orang yang secara sadar dan sengaja memilih melakukan ini ketimbang karena terdesak keadaan. Teori ini diperkuat dengan temuan bahwa beberapa di antara mereka ada yang secara sengaja melukai diri sendiri agar mendapatkan iba orang lain, kalkulasi pendapatan mereka lebih tinggi bahkan dibandingkan dengan kelompok pekerja formal, desas desus bahwa mereka memiliki rumah dan tanah yang besar di daerah asal masing-masing, sampai kabar terkonfirmasi bahwa diantara mereka tidak bersedianya "diberdayakan" melalui pekerjaan lain karena kemiskinan memudahkan mereka menerima bantuan.
Itu teori beberapa tahun yang lalu. Sekarang :
1. Siapa yang tega kalau kamu dalam keadaan kenyang, mengeluarkan dengan mudah rupiah bahkan untuk duduk-duduk kemudian ada anak kecil/Ibu/Bapak yang menghampiri hanya untuk beberapa ribu rupiah? kemudian memikirkan, bagaimana jika dia kelaparan? Ingin makan tetapi tidak ada uang. Ditunggu oleh sanak saudaranya untuk membawa makanan. Bagaimana jika dibalik, yang lapar itu adik-adik saya? Apa masih tega dan ingat semua teori diatas? Sacara kasat mata kita bahagia kemudia di depan kita ada orang yang terlihat menderita.
2. Saya mendukung penyaluran zakat, infaq, sadaqah ke lembaga-lembaga tertentu yang akan menyalurkan dan mengelola dalam bentuk yang produktif bukan konsumtif. Saya yakin anak fe dari golongan pro ataupun kontra melakukan ini dengan rutin. No doubt lah. Tapi bantuan yang kita sumbangkan kepada lembaga disalurkan dalam bentuk produktif (empowerment) seperti pendidikan, bantuan usaha yang efeknya baru akan terasa dalam jangka panjang. Dia mengobati penyebab. Tapi bagaimana untuk jangka pendek? Sekedar makan misalnya.
3. Itu tanggung jawab negara. Program pemerintah dalam bentuk bantuan konsumsi langsung itu jawabannya. Entah lewat cash transfer, raskin, dll. Tapi kitapun sama-sama tahu pelaksanaannya bagaimana. Kira-kira sampai?
So, saya percaya bahwa banyak diantara mereka memang benar-benar membutuhkan beberapa ribu untuk bertahan hari itu. Mari berlatih memberi. Islam mengajarkan tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Islam juga mengajarkan kita menyayangi fakir miskin. Mari mulai membiasakan berbagi dengan mereka yang bekerja dengan susah atau berdagang dengan perkiraan margin 200-500/rupiah per barang. Hidup juga selalu berputar bukan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar