Saya kagum dengan tingkat kerumitan proses di imigrasi kita.
Alkisah passport hilang dan karena itu harus mengurus.
Proses dr awal smp akhir kira-kira ada 7.889,567 tahapan.
Berlebihan! Memang.
Tapi ga berlebihan waktu sy bilang rumit dan butuh berhari-hari harus bolak balik.
Seharusnya saya mencatat berapa kali saya balik dan total waktu yang dihabiskan.
Luar biasa inefisien. High cost
Setelah semuanya. Akhirnya, hari ini menemui proses akhir.
Foto dan wawancara.
Seperti biasa saya harus datang pagi-pagi dan mendapatkan nomor urut.
Angka 458.
Saya menunggu giliran saya sambil membaca buku.
Saya datang pukul 07.30 dan sudah menunggu kurang lebih 4 jam.
25 menit menjelang istirahat siang, jam 12.00 siang, nomor yg dipanggil adalah 457.
Saya bergegas mendekat ke dekat loket 7.
Saya yakin tidak lama lagi nomor saya dipanggil.
5 menit berlalu..
10 menit, 15 menit..
Belum juga dipanggil.
Istirahat siang.
Okesip, saya mendesah mengapa butuh jarak waktu yg jauh dgn nomor 457.
Logika saya, hanya foto dan interview.
It only takes a minute, harusnya.
Selama jam istirahat, saya menunggu dan membeli minuman hangat.
Kombinasi hujan, terpapar AC berjam-jam dengan suhu 16 derajat celcius. Brrr
Pukul 13.00 istirahat siang berakhir dan nomor saya langsung dipanggil.
Alhamdulillaahh
Inilah inti yg mau saya ceritakan.
Dan sangaaat menjawab mengapa proses foto wawancara memakan waktu lama sekaligus mengapa proses di imigrasi secara keseluruhan inefisien.
Setelah sy duduk di depan kamera.
Seorang laki-laki di depan saya (ternyata) masih belajar mengambil foto dan dibantu berkali-kali oleh temannya.
Nampaknya staff baru.
Okesiplaahh.
Berikutnya tahapan wawancara.
Ditanya oleh ibu-ibu cantik di hadapan saya.
"Ini hilang ya? Pakai proses bap?"
"Iya" saya jawab pendek
"Untuk apa membuat passport?"
Dalam hati mau menjawab "mau melihat indahnya dunia luar. Biasa anak muda :)"
Alhamdulillah urung saya lakukan.
Sy pikir untuk mempercepat proses tanya jawab ini ada baiknya menjawab yg paling formal dan termudah untuk meyakinkan.
Maka saya jawab "untuk sekolah bu"
Daaaaan, ternyata tebakan saya salaah sodara-sodara.
Interview yg diharapkan pendek ternyata jd panjang. Salah strategi
Saksikanlah kelanjutan pertanyaan yg diajukan:
1. Oh dimana?
2. Ambil jurusan apa?
3. Beasiswa ads?
4. Universitasnya apa?
5. Kl ga salah ada by research dan course work, mba ambil apa?
6. Judul penelitiannya tentang apa?
7. Wah berapa lama bisa dpt ide penelitian itu?
8. Punya ide penelitian lain ga?
9. Oh tentang Asean community ya.. maksudnya gmn?
10. Ya ampun.. jadi nanti kita jadi satu kawasan asean ini? *mikir
11. Memang negara kita siap hadepin itu?
12. Bagaimana kesiapan sdm indonesia?
13. Keliatannya belum ada persiapan ya, tau-tau diimplementasi. Nanti kita kaget?
14. Saya juga pingin s2 lagi. Boleh ga ya s2 dua kali? *mulai cerita hasil diskusi dengan suaminya ttg sekokah
15. Jurusan public policy itu belajar tentang dampak kebijakannya?
16. Berapa skor ielts mba?
17. Ini beasiswa percobaan keberapa?
18. Kata temen saya beasiswa coba smp 4x atau 5x ga dapet-dapet?
19. Kebijakan tony abbot yg baru katanya mengurangi jumlah beasiswa yang diberikan ya?
20. Oh jumlah beasiswanya ditambah. Wah karena apa itu mba?
21. Walaupun udah banyak orang yg dapet beasiswa ads ko negara kita begini-begini aja ya mba ga ada perubahan?
Huuuufftt. Banyak yaa cyiin pertanyaannya.
Cape jawab da?
Bukan. Saya malah dengan hati mau diskusi dan menjelaskan.
Tapi..
Tempatnya bukan di kantor imigrasi.
Coba kita duduk minum cappucino di sbux.
Bukan dalam keadaan orang di luar menunggu antrian, berjam-jam dan di dalam malah mengobrol.
Point saya adalah
Mengapa belajar mengambil foto tidak dilakukan sebelumnya, diluar jam buka imigrasi?
Apakah harus pertanyaan di imigrasi sedetail di atas? Memang untuk apa?
Pertanyaan itu bahkan lebih detail dari interview dalam tahapan seleksi beasiswa.
Ditanya tema research, outline, isu-isu.
Concernnya adalah negara sebelah spt thailand dalam urusan serupa bisa selesai dalam waktu 15-30 menit. Dari A-Z.
Efisien. Tidak banyak waktu terbuang.
Apakah seperti itu tidak bisa di negara kita?
Okee, somebody please do something! *begging
Tidak ada komentar:
Posting Komentar