Hari itu seperti biasa saya berangkat kerja menggunakan kereta,
Sepanjang perjalanan mata saya lebih banyak menatap bb,
multiperson chat 4 orang saya adi nanda dan tiko.
kita lagi heboh banget karena sepulang kerja janjian mau nonton langsung pertandingan bola ber'6
Indonesia vs Bahrain (pra kualifikasi piala dunia) pukul 19.00 di VIP timur Gelora Bung Karno.
Dan saya dapat tugas untuk menukarkan kuitansi pembayaran dengan tiket di daerah manggarai.
Ketika turun dari kereta, saya baru menyadari tas saya tinggal satu dari dua tas. Tertinggal dikereta.
Tepok jidat karena di tas itu ada agenda yang berisi catatan seluruh rapat, kartu nama orang lain dan bahan-bahan lain yang suka saya selipkan.
Sisanya? Tidak begitu penting, toblerone dan cadbury untuk di GBK.
Kalau dari segi harga, agenda itu sama sekali tidak materiil. Tapi dari segi informasi, materiil.
Maka saya panik melaporkan kepada petugas stasiun.
Mereka kemudian menggali informasi dari saya, menghubungi stasiun lain untuk mengetahui posisi kereta dan terakhir meminta saya menunggu sampai petugas memeriksa tas tersebut apakah masih ada atau tidak.
Saya puas dengan cara petugas dalam menangani kasus ketinggalan ini. Sigap.
Walaupun pada akhirnya mereka menyampaikan kepada saya, bahwa kereta sudah diperiksa dan nihil. Baiklah.
Diikhlaskan. Sambil berdoa semoga kalau ada catatan yg confidential hanya dibaca oleh si penemu.
saya cerita ke multiperson chat "tasnya udah ga ada" pakai emot senyum.
Siang hari ketika sedang rapat, nomor tidak dikenal menghubungi.
Saya mengangkat dan terdengar suara seorang laki-laki.
Dari suaranya saya menebak bahwa dia adalah seorang pekerja dengan umur dibawah 30 tahun.
Suaranya santun.
Dia mengatakan telah menemukan tas saya, minta maaf membuka agenda saya dan menghubungi karena ada kartu nama saya dalam jumlah banyak disana.
Selanjutnya dia menanyakan kapan saya pulang kerja, bisa bertemu dimana dan berniat mengembalikan.
kalau rute saya stasiun ui-cikini, maka dia memberitahukan rute dia stasiun depok baru-kota. Tidak sulit untuk membuat janji.
Saya katakan saya akan mengikuti jadwal dia, tapi untuk hari itu saya tidak naik kereta dan pulang malam (yaiyalah, udah beli tiket nonton bola hehe)
Saya senang. Masih ada ya ternyata yang menemukan barang orang lain kemudian berbaik hati berinisiatif mencari pemiliknya.
Setelah hari itu kami saling kirim kabar via sms kapan dan dimana akan mengambil barang.
Hari H dia memberikan informasi yang lebih spesifik tentang jadwal kereta yang dia naiki dan akan memakai baju apa. Kami berjanji bertemu sepulang kerja.
Saya gelisah.
Saya mulai berpikir sebaliknya.
Oke orang ini baik mau mengembalikan, tapi bagaimana kalau ternyata.....
Dan sekarang kami akan bertemu langsung.
Tiba-tiba kepikiran adegan film action-drama. Inget juga berita dikoran yang bahaya-bahaya dan dimulai karena ketemu orang yang tidak dikenal.
Huahh.
Saya menjadi lebih gugup dan menginformasikan detail kepada seorang teman tentang pertemuan itu.
Saya bahkan masih bbm teman saya itu sampai detik-detik keretanya datang.
Pokoknya kalau terjadi sesuatu, harus ada yang bisa memberikan kesaksian *preventif ceritanya :D
Saya langsung berdiri dari kursi peron ketika kereta yang dimaksud datang.
Saya mondar-mandir memperhatikan orang yang turun dari kereta dengan ciri yang dimaksud.
Tidak ada.
Sampai saya dikejutkan oleh suara dari belakang yang memanggil nama saya.
Sesuai dugaan, pekerja muda dengan ciri-ciri yang sudah diinformasikan; kemeja garis-garis dan kacamata.
Dia langsung memberikan tas saya.
Saya masih menjaga jarak, menunggu responnya sebelum memberikan respon balik.
Tidak terjadi apa-apa.
Akhirnya saya mengucapkan terima kasih dan memberikan "sesuatu" yang sudah saya siapkan, juga cokelat-cokelat yang memang ada ditas itu.
Tapi berkali-kali saya memaksa, dia tetap tidak mau menerima.
Kemudian bilang "Untuk keluarga mba dirumah saja"
Laki-laki itu permisi dan pergi.
Saya langsung mengabarkan teman saya "udah ketemu, baik ternyata" untuk menghilangkan cemas yang mungkin ada.
Teman saya menanyakan lagi "sempet nanya nama?" saya balas "engga. sempet senyum aja engga"
dia langsung bilang "parahhh!!"
Iya ya betul juga. Itu parah. Ketakutan saya lebih dominan ternyata. Dia sudah repot, mengeluarkan pulsa, tidak mau menerima apa-apa, ditambah sikap saya sudah banyak berprasangka.
Akhirnya setelah sampai rumah saya sms panjang lebar yang intinya mengucapkan terima kasih, walaupun tetap tidak menanyakan nama (Bahkan sampai sekarang di phone book masih bernama "penemu tas" hehe)
Well, sehari-hari kita memang mendapat banyak sekali kabar tentang orang yang berbuat kriminal, bermaksud tidak baik dan mengingatkan kita untuk lebih waspada. Itu harus.
Tapi saya berkesimpulan, diam-diam masih banyak juga orang baik di negeri kita.
Sekali lagi saya berterima kasih.
:)
suatu hari nanti Ida sebar undangan, begitu ditanya...ketemu calon dimana? jawabannya "dia nemuin tas aku di kereta, mi..." (i would love to hear that answer :D)
BalasHapusooo sinetron sekali.. in tre raal life the story usually "mas mas nya udah nikah" mba imi :))
BalasHapus