Sy udah ga ngerti lagi kapan buku the shallows ini selesai dibacanya. Karena setiap paragraf bikin sy berenti baca dan mikir untuk beberapa jam kedepan dan (baru) melanjutkan membaca lagi. Ini buku sebenarnya ga sengaja ditemuin karena diulas majalah gatra. Perensesinya dengan sukses memprovokasi untuk membeli, juga karena dilengkapi 3 alasan lain; 1. Penulisnya, Nicholas Carr, adalah finalis pulitzer Award 2011 kategori general nonfiction, 2. Pengantar bukunya Dr. Ninok Leksono, M.A. (I adore him!) dan 3. Tentu saja temanya bikin penasaran. Buku setebal 279 halaman ini akan menjawab pertanyaan di cover depannya apakah internet mendangkalkan cara berpikir kita. Dan tanpa menyelesaikan buku pun sebenarnya di belakang cover ditulis semacam kesimpulan. Tertulis:
‘’internet memberikan kemudahan dan kesenangan, tapi juga mengorbankan kemampuan kita berpikir secara mendalam...... membaca buku cetak membuat kita dapat memfokuskan perhatian, mendorong aktivitas berpikir mendalam dan kreatif. Sebaliknya, internet memaksa kita menelan informasi secara instan, cepat, dan massal sehingga membuat pikiran kita mudah teralihkan. Kita menjadi terbiasa membaca serba kilat dan cepat menyaring informasi, tapi akibatnya kita juga kehilangan kapasitas kita untuk berkonsentrasi, merenung, dan berpikir mendalam.”
Well, intinya itu yaaa, tapiii.... kalau mau tau pembahasan gimana sampai penulis ambil kesimpulan seperti itu boleh baca sendiri. Hehe. Dan pembukaan itu sama sekali bukan fokus tulisan ini. Saya mau cerita cuma bagian kecil dari buku itu, yang bikin penasaran untuk ditulis dan itu cuma 2 paragraf. Masih banyak paragraf lain yang bikin penasaran, namun akan sy tulis terpisah. Supaya lebih fokus. hehe! *gaya*
Ini tentang perdebatan para sejarawan dan filsuf tentang peran teknologi dalam membentuk peradaban. Singkatnya ada 2 pendapat tentang ini. Sebagian dari mereka mendukung apa yang dikemukakan oleh sosiolog Thorstein Veblen sebagai “determinisme teknologi”; mereka berpendapat bahwa kemajuan teknologi, yang mereka anggap sebagai daya mandiri di luar kendali manusia, merupakan faktor utama yang mempengaruhi sejarah manusia. Ralph Emerson lebih jelas lagi: “Benda-benda mengendalikan dan/menunggangi manusia.” Dan seperti tulisan McLuhan di bab “Gadget Lover” di bukunya Understanding Media, peran utama kita adalah untuk menghasilkan alat-alat yang lebih canggih lagi sampai teknologi bisa mengembangkan kemampuan untuk memproduksi dirinya sendiri. Pada titik ini, kita tak terpisahkan.
Disisi berlawanan adalah para instrumentalis – orang-orang yang seperti David Sarnoff, meremehkan kekuatan teknologi, dan mempercayai bahwa alat hanyalah artefak netral, yang sepenuhnya patuh kepada harapan sadar para penggunanya. Peralatan kita adalah sarana yang kita gunakan untuk mencapai tujuan kita; peralatan tidak memiliki tujuan sendiri. Instrumentalisme merupakan pandangan terhadap teknologi yang paling banyak diikuti, inilah pandangan yang kita harap benar. Sebagian besar orang membenci ide bahwa entah dengan cara bagaimana kita dikendalikan oleh alat kita. “Teknologi ya teknologi”, demikian pernyataan kritikus media James Carey; “teknologi hanyalah sarana komunikasi dan transportasi antarruang, dan tidak lebih dari itu.”
Sebagai awam dibidang teknologi (yg untuk office aja mesti ambil les. He!), sy tidak hendak mengkritisi dua pandangan tersebut. Sy hanya ingin menyampaikan standing point saya. Pertama-tama sy ucapakan terima kasih kepada instrumentalis yg telah mengingatkan bahwa alat hanyalah alat, dan kita punya kendali atas itu. Saya berterima kasih karena sering sadarnya bahwa sy sangat “powerless” terhadap alat-alat yang saya punya. Maka dari situ sy hendak bergabung dengan para determinisme (ceritanya geng-an anak SMP). Ini hasil perenungan saya, bahwa semua alat itu telah membantu, memudahkan dan saya gunakan sebagai fasiltas untuk mencapai tujuan tertentu, benar adanya. Namun ada titik juga dimana pada hidup sy, yang terjadi sebaliknya, sy tidak berhenti-henti disibukkan oleh alat (yang bahkan ketika sy sibuk, alat bisa bikin sy lebih sibuk dengan dia). Komputer/laptop dengan semua yang terkait dengannya (email, google, situs2 fav, youtube, socmed) bukan lagi sy gunakan, tapi seperti echo memanggil-manggil. Ditambah alat komunikasi dengan segala jenis features-nya yg semakin kuat menggoda sy. Daaaan, itu akan lebih sempurna seandainya saya pnya tv (apalagi kl TV kabel-an), dimobil ada radio, pemutar musik, komputer tablet, atau kalau laki-laki punya peralatan game. Sempurna terdeterminasi, menurut saya. Kalau sudah punya semua itu, ngacung siapa yg masih merasa punya kendali penuh thd dirinya? Kendali untuk bangun dan bergegas melakukan yang lebih penting saja sy rasa sudah ga ada.
Demikian merasa terdeterminasi dan waktu habis dengan alat-alat itu, beberapa kebijakan pernah diambil. Sebut saja si papih akhirnya memutuskan rumah tanpa tv dengan cara menghibahkannya. Sy sendiri sempat memutuskan deactivated semua akun socmed, meninggalkan bb dirumah dlm keadaan off, dan meninggalkan hingar bingar dunia. Halah. Dan memang hidup tanpa alat-alat jauh lebih fokus dan produktif. Tapi apa akibatnya? 1. Dituduh lagi galau 2. Agak ketinggalan informasi.
Saya juga memperhatikan mengapa, ada sekolah-sekolah yang menerapkan peraturan untuk menjauhkan muridnya dari alat ketimbang mengajarkan mengendalikan alat. Seperti pengalaman saya ketika boarding school di NF Anyer (SMP), kita dibuat steril terhadap semua peralatan. Nyaris 24 jam tanpa hp, tanpa tv, tanpa internet, tanpa pemutar musik dan lain-lain. Apa sebab? Katanya agar tidak mengganggu proses belajar dan tetap fokus. Apakah kesimpulannya adalah (ada saat dimana) alat lebih menjadi semacam pengganggu dan menyebabkan tidak fokus?
Bisa jadi memang demikianlah bergain (beberapa dari) kita terhadap alat, lemah. Mudah tergoda. Gampang ter-destruct. Secara tidak sadar, sulit mengatakan tidak terhadap mereka. Otomatis dan tidak terpisahkan. Kecuali benar-benar harus dipisahkan dan berjauhan. Maka disinilah saya, termasuk yang belum menemukan cara bagaimana agar tetap teguh melanjutkan aktivitas ketika icon bird ny twitter mucul di layar bb, atau ketika LED me-merah, dan ketika pang ping saling sahut 24 jam. Again, satu-satunya cara saya yang sukses besar adalah, memang tidak berdekat-dekatan dengan alat itu. Mereka amat determinan terhadap sy. Itu pengalaman saya.
Sambil perdebatan antara penganut determinisme vs instrumentalisme semakin meruncing dan pertentangannya yang tidak akan pernah selesai, Mr. Carr punya pendapat sendiri, yang mengetangahi kedua pandangan tersebut. Katanya kadang alat-alat kita mengerjakan apa yang kita perintahkan. Di lain waktu, kita menyesuaikan diri dengan tuntutan alat-alat kita.
Lebih logis. Bahkan dengan definisi “alat” yang lebih luas dari sekedar teknologi :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar