Sabtu. 04.56 WIB. Dapat sms dari seorang teman baik. Sangat baik.
Isinya begini :
Asslm, da.. Gmn u*m? :) Da, mohon izin minta restu dan bantuan y. Gw saat ini sedang berproses untuk menggenapi setengah agama gw yg msh bopeng. Kelihatannya proses yang gw tempuh ini akan semakin serius. Dia adalah “absolutely xxx (menyebut nama artis fav dy) spti yg gw tuliskan pada cerita xxx (notes dia di fb). Sob, gw menganggap, lw adalah salah satu temen terdekat gw selama at least 5-6 tahun belakangan. Gw blh minta tlg untuk kasih testi ttg gw, baik untuk sifat atau apapun yang (+) ato (-). Buat kelengkapan t*#$f, he! Kl udah bisa dikirim ke xxxx@gmail.com.
Thx bgt ya da.. mohon doa restunya
Entah untuk alasan apa saya tidak bisa berhenti tersenyum pada hari itu. Saya benar-benar bahagia. Tp mungkin bahagia saya karena tau tmn sy sedang berbahagia dan tentu saja karena saya merasa akhirnya dia melakukan sesuatu untuk yang dia sebut “kebahagian”.
Orang yang sedang saya ceritakan ini seperti yg sudah disebut diatas, seorang teman baik dengan hubungan pertemanan yang terbilang unik (atau aneh). Dan karena lawan jenis dan mungkin terlihat terlalu dekat, beberapa menjadi suuzon bahwa kami memiliki hub lebih dari pertemanan. Tapi sesungguhnya tidak. Ini memang hanya pertemanan dan mungkin merasa nyaman. Tidak jarang saya ditegur oleh teman dan senior kampus yang sayang, bahwa apa yang kami lakukan bisa saja menimbulkan salah paham orang lain. Like i care *bercanda :p Entahlah, yang jelas kami bisa berdiskusi berjam-jam untuk hal yang penting sampai tidak penting, dimanapun. Pandangan dan cara berpikir kami pun relatif sama dalam beberapa hal, tapi ga jarang juga saya sakit hati karena ngerasa di-debate tanpa didengerin sampe titik. Serunya, dia juga mau ngbantu memikirkan masalah saya yang jauh kaitannya dengan urusan kampus. Dan kapanpun d sms atau di telpn, nyaris orang ny selalu datang dan muncul. loyal dengan teman.
Saya rasa dia salah satu laki-laki yang cukup sabar untuk mendengarkan semua hal yang keluar dari mulut saya, dengan gaya khas wanita dipanjang-panjangin plus (sesekali) pke tangis. Yang paling khas dari dia ketika mendengarkan adalah “udah da ceritanya? Sekarang boleh giliran gw?” saya akan menyahut “udah. Boleh” dan u know? Baru beberapa kata keluar dari mulut dia, saya sudah melanjutkan lagi kata-kata saya. Hahahaha. “jadi lu udah atau belum ceritanya??” mungkin dia udah mau ngamuk :D :D :D LOL
Lain waktu kalau saya menceritakan masalah via sms, dy hanya menjawab singkat “lo Cuma kecapean aja da. Butuh istirahat. Coba lah lallalallala” atau “wah kalo lo laki-laki udah gw ajak naik gunung” dan sms-sms lain yang cukup untuk membuat tensi saya sedikit menurun.
Setelah kehidupan kampus
Kami masih cukup sering berkirim kabar, sesekali bertemu dan berdiskusi. Dia kemudian muncul dengan frekuensi berlebihan ketika saya masuk rumah sakit pada bulan agustus lalu. Bayangin! Dia bisa sms menanyakan kabar dll yang terkait sakit bisa mencapai 7x/hari, artinya 49x/minggu dan kalau sakitnya lebih dari 1 bulan?? Hitunglah. Dan kemudian hilang setelah saya sehat dan pulih.
Terakhir pertemuan kami adalah baru saja (mungkin di bulan november) pada acara monolog berjudul “Karna” yang diadakan oleh Komunitas Salihara dengan sutradara Goenawan Muhammad. Setelah menonton pertunjukan dilanjutkan membincangkan hidup –kemarin, hari itu, dan masa datang- termasuk di dalamnya tentang sesuatu yang bernama pernikahan. Ini lah statement nya malam itu yang saya ingat “Da, gue berada di usia, yang menurut gw, akan lebih produktif apabila punya partner dalam berjuang”
Dan (sedihnya) mungkin saja itu adalah diskusi panjang terakhir.
Karena hari ini jeng2! Sms bahagia itu sampai. Yeay November ke akhir Desember. Hm cukup singkat dari sekedar wacana untuk menjadi realisasi. Daaaan, sekali lagi saya berbahagia sodara2.
Yaks, karena bagi seorang teman, tidak ada yang lebih membahagiakan dibandingkan mendapat kabar bahagia temannya. Lancar semoga. Berkah bro :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar